Isi email Prita Mulyasari, Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang

Prita Mulyasari

Prita Mulyasari

Banyak berita yang membahas tentang kasus dari seorang ibu bernama Prita Mulyasari, termasuk salah satu teman saya pun membahasnya (3 Juni 2009). Jujur saat itu saya belum mengetahui apa isi email Ibu Prita tersebut, ketika saya bertanya pada teman tersebut “memang isi email Prita itu apa sih? kirim dong ke gw”. Dia hanya menjawab “cari aja di internet”, kenapa ga mau kirim isi emailnya? Atau jangan-jangan teman saya tersebut belum baca juga isi emailnya? :P

Ketika mencari di google pun banyak blog, forum atau site yang membahas kasus Prita Mulyasari ini, tapi tidak menampilkan apa isi emailnya yang membuat dia menjadi tahanan. Akhirnya saya mendapatkan sedikit informasi, bahwa ibu Prita Mulyasari ini memiliki email dengan alamat prita.mulyasari [at] yahoo.com. Setelah googling lagi dengan keyword prita.mulyasari [at] yahoo.com, akhirnya dapat juga isi email ibu Prita Mulyasari tersebut dari arsip email, http://mail-archive.com.

Berikut isi email Prita Mulyasari yang didapat dari :

http://www.mail-archive.com/parentsguide@yahoogroups.com/msg09863.html

From: prita mulyasari [mailto:prita. mulyasari@ yahoo.com]
Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM
To:
Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang
 
Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, terutama
anak-anak, lansia dan bayi.
Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title International
karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba
pasien, penjualan obat dan suntikan.
 
Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami
kejadian ini di RS Omni International.
 
Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi
dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut
berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan
manajemen yang bagus.
 
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39
derajat.  Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah
thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya
diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib
rawat inap.  Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya
yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.  Dr.
Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi saya
meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini.  Lalu
referensi dr. Indah adalah dr. Henky.  Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan
saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam
berdarah.
 
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin
pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa.  Keesokan pagi,
dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam
bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget tapi
dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan
berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau
keluarga pasien.  Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap
masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah.  Saya sangat
kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih
memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan
saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
 
Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik
tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya meminta
keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster
hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya.  Satu box
lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.
 
Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan
minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang sampai saya dipindahkan
ke ruangan.  Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan
datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek
dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.
 
Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk
memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya
sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara.  Saya tanyakan
berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa demam
berdarah tetap virus udara.  Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan
kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.
 
Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak
napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya
berkata menunggu dr. Henky saja.  Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus
padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya.
Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan
suntikan dan obat-obatan.
 
Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun
janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari.  Suami dan kakak-kakak
saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab
awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam
riwayat hidup saya belum pernah terjadi.
Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya.
 
Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut malah
mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan
menyuruh tidak digunakan infus kembali.  Kami berdebat mengenai kondisi saya
dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang
pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja.  Dr. Henky menyalahkan
bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.
 
Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau
dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain.  Tapi saya membutuhkan data
medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis
yang fiktif.
 
Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu
kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya
samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang
181.000 bukan 27.000.
 
Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan
bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000,
kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya complaint dan marah-marah,
dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di
Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang
memegang hasil lab tersebut.
 
Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi
(customer service coordinator) dan saya minta tanda terima.  Dalam tanda terima
tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar dipermainkan
oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya sama sekali ke
customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima
pengajuan complaint tertulis.
 
Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama Ogi
(customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan
diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan
saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari
lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 makanya
saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya
masih bisa rawat jalan.
 
Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint saya
ini tidak profesional samasekali.  Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia
mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi
informasikan ke saya.  Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr.
Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas
(Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
 
Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut analisa
ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena
sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki bisa terjadi
impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.  Saya lemas mendengarnya dan
benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa
sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis
tinggi sehingga mengalami sesak napas.
Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya
tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
 
Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 tersebut
namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan
waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.  Keesokan paginya saya tunggu
kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni
memberikan surat tersebut.  Saya telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab
compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya
namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang
kerumah saya.  Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah
dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS
yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta
disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan
waktu yang lama.  Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat
tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut
 Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua.  Hati-hati dengan permainan mereka yang
mempermainkan nyawa orang.
Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan
customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini cantum.
 
Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut
dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan
pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya
menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai
kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan
diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari
sebelum masuk ke RS Omni.
 
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin tahu
bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni
mendapatkan pasien rawat inap.  Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan
janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang
sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak
napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani
dengan baik.
 
Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan
asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal
mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
 
Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina)
namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka
dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
 
Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput
atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan
apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup
untuk menyembuhkan.
 
Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing,
benar.... tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dpercaya
untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah
memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan
kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu
saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang
saya alami di RS Omni ini.
 
Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau
dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky, dr.
Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi
perusahaan Anda.
 
Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan
RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.
 
salam,
 
Prita Mulyasari

Referensi:

http://www.mail-archive.com/parentsguide@yahoogroups.com/msg09863.html



Popular Posts
  • Digg
  • Delicious
  • StumbleUpon
  • Share/Bookmark

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

trus kelanjutan kisahnya gimana tuh?

Prita Mulyasari dibebaskan dari LP wanita Tangerang dan menjalani tahanan kota, sidang kasus ini digelar besok (4 Juni 2009).

Menanggapi masalah Prita atas kecerobohan RS OMNI saya berpendapat bahwa hendaknya RS OMNI bila menerima kritik dari pasien hendaknya dapat menerima, karena bagaimana RS dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat bila ada keluhan seperti itu ditanggapi dengan cara seperti ini.Bila di RS OMNI ada kotak saran, maka saya menanyakan fungsi kotak saran yang ada bila tidak mau menerima saran atau keluhan dari masyarakat.

Setelah saya membaca email Saudari Prita Mulyasari, saya beranggapan bahwa ia hanya menyampaikan keluhan atas yang terjadi pada dirinya. suatu hal yang wajar menurut saya,,…

Saya Do`akan agar kesehatan Ibu Prita Segera membaik dan kasus yang Ibu Prita Hadapi ini cepat selesai…

Amien…

Setelah saya membaca email Saudari Prita Mulyasari, saya beranggapan bahwa ia hanya menyampaikan keluhan atas yang terjadi pada dirinya sendiri.

Menurut saya, ini suatu hal yang wajar ,,…

Saya Do`akan agar kesehatan Ibu Prita Segera membaik dan kasus yang Ibu Prita Hadapi ini cepat selesai…

Allah S.W.T Selalu ada dan Melindungi setiap Umatnya,,
Amien…

Sebenarnya ada apa dengan kejaksaan yang mengadili prita mulyasari hingga beliau dipenjara hanya karena curhatnya pada orang2 yg peduli?

BAGI SAYA , SEBAGAI SEORANG WARTAWAN TV,KASUS TSB SEBAIKNYA DIPROSES SECARA HUKUM AGAR RUMAH SAKIT TERSEBUT MENDAPAT PELAJARAN , APABILA TERBUKTI BERSALAH CABUT SAJA IJINNYA AGAR DUNIA TAHU BAHWA DUNIA KESEHATAN DI INDONEISA TIDAK DIJADIKAN SEBAGAI KELINCI PERCOBAAN. . DOKTER DI INDONESIA/ SELAMA INI KESANNYA KEBAL HUKUM. MAAF INI OPINI LHO NANTI DISANGKA MEMBUAT FITNAH LAGI………YANG SALAH BIARLAH BERSALAH YANG BENAR TETAPLAH PADA JALANNYA. SEMOGA………….

saya sangat mendukung ibu prita yg mencari hak dan kebenaran dlm kasus ini.

Buat pihak omni : seharusnya standar internasional yg disandang oleh rs ini di ikuti juga dengan tenaga medis dan karyawan yg profesional pula.

menurut saya kok sebaiknya kita tidak banyak komentar terhadap masalah ini. kita lihat saja hasil pengadilan, karena masalah ini sudah jadi booming sehingga pihak yang terkait dengan keadilan pasti bekerja ekstra hati-hati

menurut saya kita sebaiknya tidak banyak komentar karena masalah ini sudah menyebar luas sehingga pihak terkait (pengadilan) pasti akan sangat berhati-hati…..

tindakan RS OMNI untuk membersihkan nama baiknya dengan memejarakan ibu Prita Mulyasari ini sangat keliru, bahkan malah membuat citra dari rs itu semakin terpuruk karena sekarang seluruh indonesia mengetahui keburukan dari rs tersebut, alangkah bijaknya jika rs mencabut tuduhannya dan diselesaikan secara kekeluargaan dan meminta maaf kepada ibu prita dan memberi penjelasan kepada seluruh masyarakat itu akan memperbaiki citra dari rs omni.

menurut saya…. gk jadi ah.. ntar kena pasal lagi.

PERADILAN INDONESIA: PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku

Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk

menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku

Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap Rp.5,4 jt. (menggunakan

uang klaim asuransi milik konsumen) di Polda Jateng
Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi

dan menyesatkan masyarakat,sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
Maka benarlah statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan

rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK). Ini adalah bukti nyata moral sebagian

hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat.
Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen Indonesia yang sangat dirugikan

mestinya mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
Sudah tibakah saatnya??

David
HP. (0274)9345675

ini namanya sudah jatuh ketimpa tangga
moga2 aja kebenaran yg sebenar2nya terungkap

tapi kenapa yah soal kek ginian cepat banget diproses kejaksaan sampai ditahan, liat aja tuh jaksa yg jualan narkoba jelas2 ada bukti cuman tahanan kota

RS OMNI BANGSAT,GAK USAH AROGAN DOKTER KAYAK GINI MATIIN AJA
SAYA SDH SERING DENGAR KALO DOKTER YG SALAH KESANNYA BS BERKILAH SELALU YG JD KORBAN PASIEN,LEBIH LEBIH ORANG GAK MAMPU.APARAT PENEGAK HUKUM JG KADANG MALAH MEMBEKINGI,MAU DIBAWA KEMANA NEGARA INI,APA KATA DUNIA

Aslm..maaf…saya kurang paham tentang hukum itu untuk apa?? diperuntukan untuk siapa??yang menggunakannya siapa??
karena banyak yg tau hukum,,tp gk kenal hukum,,bnyk yg liat hukum tp buta hukuman…

tentang tulisan ibu prita,,saya kira itu cuma saran dan kritik yg membangun…jd,jangan ad pihak yg harus tersinggung.. Menurut sy,”tersinggung” dgn alibi membela nama baik,,itu hanya pembelaan semata…disini,kdua pihak jg pasti merasakan hal yg sama…

alangkah lebih baik,.bila kdua pihak menyelesaikan dgn kekeluargaan-musyawarah..sy yakin musyawarah adlh jalan yg dipilih oleh org2 bijak-berilmu…dr pd perang lwt hukum (hukum hanyalah penengah dan penegas-tanpa memihak)…

saya yakin,.mereka bukan org “barbar” yg mnyelesaikan masalahny dgn perang..

Terlepas dari segala empati dan simpati yang muncul dari tangisan, Keadilan hrs ditegakkan tanpa melihat mana yang lebih lemah mana yang lebih kuat. Keadilan harus mampu membedakan mana kritik dan mana fitnah, mana penipuan dan mana kelalaian. Supaya yang alpa dan khilaf sadar, supaya yang punya hak merasa bahwa di ujung hak nya ada hak dari orang lain. Mana yang hrs menjaga ujar, mana yang hrs mengedepankan profesionalisme. Segalanya harus dilihat seadil-adilnya dan proses hukum harus tetap dilanjutkan untuk membuktikan siapa yang salah, lalai, dan berkata tidak benar dengan tanpa mengabaikan hak-hak dan kemanusiaan semua pihak yang bersengketa.

Asstagfirulahaladzim

cukup sudah jangan sampai ada prita yang lain

KORBAN KOQ MALAH DIPENJARA

BETAPA ELOKNYA HUKUM NEGRI KITA TERCINTA

Sebaiknya RS Omni tersebut ditutup aja, karena hanya mencari keuntungan saja, dengan cara mengabaikan kesehatan pasiennya. Jika memungkinkan,Ibu Prita melakukan gugatan ke Pengadilan karena telah terjadi malparaktek di RS tersebut. Mungkin banyak pasien selama ini diRumah Sakit tersebut khususnya yang mengalami hal yang sama dengan Ibu Prita, tetapi tidak mampu bersuara. Ternyata dokter tersebut juga bisa menjadi bejat demi mencar…Saya selama ini telah salah menduga bahwa pekerjaan dokter itu sangatlah mulia…Apakah profesi Dokter tersebut kebal dari hukum ???

Menurut saya, tindakan yang dilakukan oleh ibu prita dengan mengirim email seperti itu samasekali tidak ada pelanggaran terhadap undang undang ITE,itu hanya berisi keluhan dari bu prita terhadap pelayanan RS tempat beliau pernah berobat,dan karena hal tersebut benar2 dialami oleh ibu prita, saya rasa hal itu wajar,ibu prita boleh menyampaikan keluhannya di media apa saja baik itu koran, majalah,televisi maupun internet.Ingat ini negara demokrasi, kecuali jika ibu prita ini hanya mengarang hal ini lain cerita.

Sebarluaskan ke seluruh penjuru dunia, bahwa HAM dan kebebasan untuk berpendapat dan mengeritik di Indonesia masih belum di lindungi hukum…hayo teman2 media cetak, elektronik NAME AND SHAME itu orang2 yang terlibat..korek data2nya sampai kerak2nya….siapa yang punya RS ini…saham siapa yang terbanyak, buat history dari dibukanya RS ONANI ini…maksudnya OMNI. Jangan lupa keruk informasi dari awal pengajuan ke Polisi, Kejaksaan, dan Pengadilan…ini ada unsur kebodohan….selidiki pengacara RS Omni Sdr, Risma Situmorang…..kalau 1/3 saja cerita Ibu Prita itu betul…maka kata2 PENIPUAN sudah bisa dipakai untuk judul surat curhat tsb. dari dr. Henky, Grace, Mimi, Ogi, cek data pribadinya apakah mereka itu ada hubungan dengan share holder (pemegang saham)…atau dengn Management RS tsb…bongkar….bongkar. This is make my heart boiled.

Memang kalau pemilihan profesì semata2 demi UUD(ujung2ñ duit),inilah yg terjadi. UUD karena bangsa ini masih memberikan penghargaan sebatas penampilan/fisik dan gelar. Bukan karena usaha dan pencapaian. Ayo buka mata, buka hati. Kalau cuma ingin ‘kaya dan terpandang’, jgn jd DOKTER apalagi Profesi di bidang HUKUM. Lebih terhormat memilih jd PENGUSAHA!

Aduh,…….
takut dech berobat ke OMNI International Alam Sutra
nanti Q dirawat di LP Tangerang,………………
piece…. jangan tuntut gue yech,………

No comment, nanti dipenjara juga lagi >_<.
Gampang banget menjarain orang yang tdk bersalah dibandingin yang pada korupsi

smoga kasusnya dimudahkan Allah…:)

semoga kasusnya dimudahkan Allah..amin..

Sebagai orang yg sedikit mengetahui tentang medis, apa yg dilakukan kpd bu prita sudah termasuk mal praktik. Mengapa hanya dikatakan infeksi virus, itu sama saja dokter tdk tahu persis apa penyakitnya. Tp herannya, kenapa dberi berbagai obat2n.
Hati2 jika menerima obat dari dokter, krn bisa saja dokter terikat kontrak dgn perusahaan farmasi tertentu untk mgunakan obat tsb. Jika masuk target, maka dokter akan mnrima reward. Jd tanyakan apa isi obat, krn ada generiknya. Obat bmerk lebih mahal ya krn bwt byr dokternya jg. Jd pasien hrs kritis, kalo dokternya ga komunikatif, tinggalkan saja, cari yg bs diajak diskusi, krn ini kan masalah nyawa.
Buat bu prita saya dukung. Mana ada gara2 email orang dpenjara, ada apa antara kejaksaan dan rs omni? Patut dcurigai, krn hukum tdk bpihak pd konsumen

Rumah Sakit Brengsek!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Omni

Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik bagi ibu Prita,dan ingatlah bahwa Allah selalu membela yang benar

Gimana sih itu, orang belom diputusin bersalah masih azas praduga tak bersalah katanya eh udah maen penjara aja, Koruptor yang udah jelas2 salah aja masih pada berkeliaran bebas, bisa jadi ada yang gak beres dengan perangkat hukum di negeri ini.
Masalahnya udah nyampe ke Persiden & Capres2 lainnya, bakalan kebakaran jengot dah tuh si Omni-vora…

Menurut saya …..GAK JADI AH ….TAKUT KENA PASAL JUGA …NTAR KENA PASALNYA BERLIPAT LIPAT .

Gak jadi ah …..

bajingan semua oknum RS OMNI

saatnya blogger ikut berjuang membela yang tapi benar. pertaruhan yang besar adalah senjata ampuh untuk membuat jera pihak yang salah. saatnya menunggu apa keluhan prita benar? jika benar, aku pengen semua lawan prita diberi sanksi berat. sanksi yang merugikan keuangan mereka dan merugikan kehormatan mereka. yang kayak gini juga layak diberlakukan dalam kasus manohara. mungkin ga ya, tiap pihak yang salah tapi pura2 benar karena kuasa dan hartanya, jadi budak pihak yang terbukti benar???!!! wahai para blogger, kita tantang pihak yang bersengketa untuk bertaruh bbbeeesssaaaaarrrrr…
contoh konkret::klo malaysia tetep ngeyel masalah ambalat, taruhannya seluruh malaysia jadi milik indonesia!!! ganyang kejahatan!!!

Angger weh RS OMni Belegug siah…

Untuk dr. Henky dan nama-nama lain yg disebutkan diatas, yg telah mempermainkan Ibu Prita, semoga anda semua dibakar di neraka

ach…selalu orang kecil yang salah…kapan bisa maju bangsa ini…wong yang berkuasa orang gede..lihat aj kasus prita,dia mo curhat eh dibilang jelek2in RS…moga2 gak ada lagi korban berikutnya di RS OMNI…

Sidang kasus Pripta Mulyasari dilanjutkan Kamis 11 Juni 2009 dengan agenda eksepsi.

hai Dokter hai rumah sakit mengapa kau abaikan sumpahmu ! hanya kau gunakan AROGANMU

Wah !!!!!
rumah sakit besar aja kayak gitu apa lagi rumah sakit kecil ampuuuuuuuuuuuunnnnn ndoroooooo

Buat Ibu Prita jgnlah pernah menyesal krn tlah mengirimkan email tsb.
Terimakasih atas info yg sangat bermanfaat ini. Saya dan keluarga tidak akan menyentuh RS Omni.

menurut saya apa yang dilakukan ibu prita itu adalah sebuah kritikan yang sebenarnya bisa membangun rumah sakit tersebut menjadi lebih baik…
dan masalah dia meminta hasil laporan trombosit yg 27000 itu sah-sah saja…karena dia itu adalah seorang pasien yang berhak tahu ttg apa yang terjadi dengan dia…
justru sekarang yang dicemarkan nama baiknya adalah bu prita…dan saya harap bu prita dapat tabah menjalani ini..
kami semua akan tetap mendukung ibu prita…walaupun hanya dukungan melalui do’a…tp do’a yg tulus dr kami akan selalu menolong ibu…amien

Mohon maaf rekan-rekan yang comment nya hilang, account saya di suspend jadi saat ini menggunakan database yang kemarin.

pusing ahh..

ASSALAMUALAIKU
Segala sesuatu masalah pasti ada jalan keluar
SARAN BUAT RS OMNI.
BELAJAR MENGHADAPI SEBUAH MASALAH
BUKAN BELAJAR LARI DARI SEBUAH MASALAH….~
BELAJAR DARI SEBUAH KESALAHAN
BELAJAR UNTUK MENGALAH KALAU SALAH
JANGAN MALU MALU KALAU SLAH KATAKAN SALAH ,
KARNA MALU, LEBIH BBURUK MEMALUKAN!!!

sebaiknya rs tersebet dinon aktifkan saja karna bs merugikan anak bangsa…..
dan dokternya diberi sangsi

Mohon izin meng-copy ya….

@dhani silahkan, biar semua tau kasus prita mulyasari ini.

sebagai bagian dari masyarakat indonesia…saya merasa prihatin dan sedih akan demokrasi negara ini….

dahulu pahlawan kita bangga bisa memerdekakan bangsa ini, dengan perngorbanan jiwa dan raga beliau…….namun kini semua berbanding terbalik….kini tiada pahlawan yg seperti mereka…hanya ada org yg berkuasa yg dengan rela mengorbakan diri orang lain untuk menjayakannya……

saya yakin…pahlawan terdahulu pasti menangis di alam sana….melihat penindasan dan penganiayaan yg terjadi terhadap rakyat kecil…yg padahal rakyat kecil dahulu dibela oleh pahlawan dan diayomi oleh bangsa dan negara…?

mari semua buka mata kalian….pasang telinga….dan dengarkan suara hati kalian…..jangan memilih karena umbaran janji…tapi memilihlah dengan hari dan ketulusan jiwa agar yg berkuasa dan kaya tidak bisa menganiaya masyarakat kecil lg……..

salam hangat untuk rakyat indonesia…
bersatu kembali…
berdaulat kembali…
dalam bhinneka tunggal ika……

Rumah sakit internasional memang bgt, yg dikejar uang bukan pelayanan, skrg juga byk dokter2 yg dikejar target oleh klinik2, mending cari dokter yg praktek sendiri, jgn dokter skalian sama klinik apotik, pasti pasien dikasi vitamin doank, hati2 anda sebagai pasien, smoga undang2 kedokteran cepat berlaku, di negara maju sudah lama ada undang2nya.

ALAH RUMAH SAKIT OMNI MAH JELAS2 BERENGSEK MODAL SUNTIK2AN DOANG JANGAN2 SAKIT PILEK JUGA DISUNTIK MATI

Terimakasih atas telah dimuatnya isi email Prita secara lengkap dan juga cara mendapatkannya.
Kami mendapat dua ilmu sekaligus, isi email dan caranya.

Terimakasih kembali.

[...] The full email could be read here [...]

Trims. Nah, sekarang kami mengusulkan kpd Admin agar dapat di-post jalannya peradilan ukhti Prita sehingga kita dapat bersama-sama mengikuti perkembangannya. Kami optimis bahwa Admin akan dapat memperoleh datanya seperti pengalaman mendapatkan isi email diatas.
Atau apakah ukhti Prita sudah buat blog sendiri? Jadi kita tinggal copy-paste utk membantu menyebar-luaskannya melalui blog ini.

OMNI == Obat Masuk Neraka International

by Mat Rewok

TetAP semanagat Bu…semoga Allah memberikan kekuatan buat kita semua, dan uang logam 204 juta itu cepat terkumpul,,, salam hangat buat semua yang mendukung tentang keaadilan …

Ini typical kasus diIndonesia dimana hak customer tidak dihargai. Dimana RS Omni tidak bisa/mau menerima comment dari customer. Untuk cek bener tidak nya, lakukan cross check aja ke lab nya bener gak datanya. Yang buat saya lansung ketawa/shock waktu baca, ada data revisi dari 181.000 ke 27.000. Emangnya lagi UNAS ada revisi. Data harus benar dan valid. Ini nyawa……OM(NI). Moga-moga dokter-dokter yang mempermainkan pasien2 ini. Juga akan dipermainkan sama yang diATAS dalam kehidupannya.

tindakan ibu prita sebenarnya BENAR..jika ditelaah, curhat ibu prita menurut agama islam dibenarkan,karena tidak brtujuan menyebarkan aib (keburukan) seseorang atau lembaga, ibu prita hanya bertujuan memperingatkan dan memberi tau orang orang islam agar lebih hati2 dan tidak menjadi korban keburukan seseorang atu lembaga…..

ibu prita yang sabar jika ibu kalah di dunia insya ALLOH di akhirat kelak ibu akan mendapatkan pahala yang setimpal dikarnakan perbuatan orang2 yang mendholimi ibu. .

Emang jahat sekali RS OMNI. .
Katanya RS International, harusnya mencontohkan kepada RS laen. .

Kalau aku jd bu prita, aku pasti belas dendam. . .

Aku akan bom RS OMNI. . .

Hidup bu Prita. .kami pasti sport’s kamu. . .

thx dah dpt info isi email ibu prita….
sungguh yg haq itu akan mengalahkan yg bathil…
Sukses n sehat selalu untk ibu Prita… Ibu tdk perlu menuntut balik,, berikanlah maaf atas kekuranggan RS OMNI ini supaya bisa mengoreksi kekeliruan meraka dgn demikian ibu akan lebih mulia dihadapan Allah SWT.

Ingat Mbak Prita ingat juga nasibku ketika terpaksa hrs ke rumah sakit Sudah sakit jengkel lagi. Sore itu untuk kesekian kalinya aku ke RS terbesar di Mlg krn mimisan yg tdk bisa berhenti. lama nunggu di ICU lalu ditanya sakit apa dst, padahal kan sdh ada rekam medisnya trus diberi resep supaya diinfus dan beli beberapa obat. Aku ngotot cuma butuh tampon buat hidung. tp dokter jaga ndak percaya lalu akhirnya nyoba diinfus. setelah berkali2 ditusuk, tidak berhasil juga cairan infus itu masuk malah darahku yg naik keselang infus. hem akhirnya 1 jam baru dokter THT dtg dan ternyata cukup ditampon…. trus infus, alat suntik dll gimana… ya terbuang percuma…
memang sabar itu tanpa batas…tapi alangkah indahnya jika semua dapat bekerja profesional…

MENYAKITKAN! di “luar” masih banya sekali yg seperti itu!

setelah saya membaca email dari saudari prita mulyasari saya merasa nyawa manusia tdk ada apa apanya dimata para tim medis

Leave a comment

(required)

(required)